Dengkur
Entah kenpa, aku merasa sangat nyaman mendengar dengkuran di kamar kos sebelah kamar yang aku tempati. Damai rasanya mendengar dengkuran keras itu. Padahal, bila sedang dalam kondisi normal, ingin rasanya aku menggedor dinding kayu lapis yang memisahkan kamarku dengan dengan kamar si pendengkur itu.
Aku tidak kenal siapa pendengkur itu. Ini malam pertamaku di Kota Rangit. Kota yang menurutku sangat terkebelakang, kolot dan kuno. Kalau bukan karena pekerjaan, haram jadah aku mau tinggal berlama-lama di kota ini. Paling-paling, aku hanya bersedia menetap dua atau tiga hari saja. Setelah itu, aku kembali ke kotaku yang ramai, bising, namun gemerlap. Kota yang bisa membuatku melakukan apa saja. Semuanya ada di sana.
Siang tadi aku sampai di Kota Rangit ini. Perusahaan tempatku bekerja, memintaku untuk memimpin anak cabang ranting perusahaan yang ada di tempat ini. Perintah awalnya, aku hanya akan menempati posisi di Kota Rangit selama 10 hari saja, menunggu pengangkatan kepala anak cabang ranting yang permanen. Tapi ketika akan berangkat, surat tugas yang kuterima ternyata untuk 1 bulan. Aku sempat mempertanyakan, tapi setelah dengan segala penjelasan, aku akhirnya menerima.
Malam ini hari pertamaku di kamar kosku. Aku menyewa kamar di sebuah rumah panggung yang seluruhnya terbuat dai kayu dan papan. Pemisah antarkamar dibatasi dengan kayu lapis. Bukannya aku tidak sanggup menyewa kamar yang lebih layak. Tapi di kota ini, memang seperti inilah kondisinya. Seluruh rumah berbentuk rumah panggung. Meski penduduknya cukup padat, tapi tingkat perekonomian warganya tidak terlalu bagus. Ada satu atau dua rumah permanen terbuat dari semen. Tapi mereka tidak menyewakan kamar.
Hotel? Jangan ditanya. Di tempat ini hanya ada satu wisma milik militer, yang bentuknya juga tidak jauh berbeda dengan rumah warga. Wisma itu hanya ditempati pejabat militer setingkat Komandan Koramil, bila berkunjung ke Kota Rangit.
Di tengah kegalauan itu, aku menerima telepon dari seorang teman di kantor pusat. Dia menyebutkan, baru saja beredar informasi yang mengatakan aku akan dipermanenkan sebagai pimpinan di anak cabang ranting di kota ini. Telingaku seakan tidak percaya. Aku ingin protes, tapi protes kepada siapa?
Sejak awal, aku sudah menolak untuk bertugas ke tempat ini. Kawasan ini aku anggap sangat terpencil, dan tidak bisa membuatku maju. Segalanya serba tertinggal. Warnet saja tidak ada di tempat ini. Padahal biasanya aku betah berlama-lama berselancar di dunia maya itu. Beragam informasi maupun gosip yang beredar di dunia maya itu aku lahap. Tapi sekarang, aku seperti terkurung di dalam tempurung. Semuanya gelap. Tidak ada jendela yang bisa aku gunakan untuk mengintip ke luar.
Kegelisahanku memuncak. Aku akhirnya memutuskan untuk menjalankan tugas yang diberikan sesuai surat tugas, yaitu sebulan saja. Jika ternyata kemudian diperpanjang, aku sudah membulatkan tekad untuk mundur. Aku akan keluar dari perusahaan ini. Aku tidak peduli apapun yang akan aku hadapi setelah keluar dari perusahaan ini. Yang jelas, aku akan berhenti. Titik.
Malam sudah semakin tua. Tapi mataku tidak bisa dipejamkan. Pikiranku masih menerawang ke kotaku. Aku tidak bisa terima kalau aku memang ditempatkan permanen di kota ini. Aku akan berontak, aku akan keluar.
Tiba-tiba suara dengkur berhenti. Oh tidak, dengkur itu kembali lagi terdengar. Suaranya mirip sapi digorok. Grook… grook… groook… Aku menikmatinya dalam setiap tarikan nafas. Aku merasa dengkur itu telah mendamaikanku. Dengkur itu memberi harapan untuk membawaku keluar dari tempurung tak berjendela ini. (*)
April 07
December 26, 2008 at 11:23 pm
rasanya///gw tau deh di mana kota Rangit yg di ceritakan di sini Om…..hehehhehe.
January 12, 2009 at 12:39 pm
udara beranda, pagar berkarat, memang lekat di hati….