Melati Patah Kaki
Ada seekor Melati. Melati itu patah kaki. Ditembak seorang pemburu yang tak pernah menggunakan hati. Butir-butir pelurunya melayang ke sana-sini. Mengenai siapa saja yang tak pernah dipilihnya. Siapa yang terkena, akan patah kaki atau mati.
Menjadi Melati patah kaki sangat tidak menyenangkan. Hendak ke mana-mana, hati sudah pula mati. Tak lagi mau menggerakkan kaki agar menuruti kehendak hati. Sehingga sampai kapan pun, perjalanan dilakukan terseok-seok. Tak jelas arah dan tujuan. Karena hati yang jadi penuntun telah mati. Karena kaki yang melangkah telah patah. Terkena peluru pemburu yang tak menggunakan hati.
Melati sempat mengingat. Dulu saat masih kecil, dia tumbuh dan berkembang dengan sehat. Kedua kakinya tumbuh kuat, mampu diajak berjalan kemanapun suka. Hatipun tumbuh berkembang dengan sehat. Mampu jadi penuntun dalam gelap maupun terang. Sampai kemudian, peristiwa itu datang. Pemburu yang tak menggunakan hati itu menyebar peluru ke udara. Satu di antaranya mengenai kaki. Melati pun patah kaki. Untung tidak mati.
Namun kehadiran sebutir peluru di kakinya itu, mengubah seluruh hidup Melati. Dia tak mampu lagi berjalan dengan lurus. Celakanya, hatinya pun ikut-ikutan mati. Perlahan-lahan.
Meski sebenarnya ingin menggerakkan kaki yang patah, namun arahnya sudah tak jelas. Hati yang harusnya menuntun, tak lagi bersedia menunjukkan arah. Semua sudah makin tak jelas. Melati hanya bisa pasrah, meski tetap berusaha untuk kembali ke jalur. Jalur jalan setapak yang indah, dipagari tanaman hutan yang beraroma wangi. Selalu mengirimkan sisa embun yang sejuk ke setiap tubuh bisa tersentuh.
Embun. Ya embun. Itu dulu, saat kaki masih bersedia diajak melangkah. Saat hati, meskipun sudah setengah mati, namun masih sesekali masih bersedia menunjukkan arah. Namun kini, saat hati telah benar-benar mati, saat kaki telah benar-benar tak mau lagi melangkah, sisa embun itu hanya hadir di dalam mimpi. Menyiramkan hawa sejuknya ke seluruh tubuh. Mengirimkan aroma tanaman hutan yang menyegarkan. Membawa surga ke seluruh tubuh.
Kini, semua sudah tinggal kenangan. Hati tak mau lagi diajak kompromi. Kaki tak mau lagi melangkah. Melati hanya tinggal menjalani sisa hidup. Berharap pemburu yang tak menggunakan hati itu muncul lagi. Menyemburkan peluru ke udara, menyambar tubuhnya. Dan mati! (*)