In Memoriam Deliar Noer
Nama Deliar Noer tidak bisa lepas dari sejarah negeri ini. Sebagai seorang cedekiawan, pakar, politikus sekaligus pengajar, Deliar Noer nyaris tak ada duanya. Dengan pikirannya yang kritis, Deliar sering dihadang kekuatan utama untuk berkiprah di dunia pendidikan dan dunia politik. Bahkan, dia sampai harus mencari nafkah di negeri orang, karena di negeri sendiri diasingkan.
Prof Dr Deliar Noer, merupakan cendekiawan muslim asal Ranah Minang, yang lahir di Medan 9 Februari 1926. Beliau merupakan doktor politik pertama di Indonesia. Beragam pemikirannya mewarnai perjalanan bangsa. Meskipun, terkadang pemikirannya yang kritis, justru menjadi bumerang baginya.
Deliar terkenal dengan sikapnya yang keras. Ini mungkin karena dipengaruhi keluarganya yang orang pergerakan. Sejak kecil, Deliar sudah dikenal sebagai langganan juara kelas. Merangkak dewasa, Deliar aktif berkecimpung di gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Indonesia. Pergerakan politiknya semakin terasah, ketika dia kuliah di Universitas Nasional, Jurusan Ilmu Sosial Politik.
Dalam perjalanannya, Deliar sempat menjadi dosen di Universitas Sumatra Utara (USU). Namun kekerasan sikapnya yang menentang NASAKOM, membuatnya terbuang. Dia dipaksa melepas jabatannya sebagai dosen. Saat itu, Deliar menganggap NASAKOM sebagai sesuatu yang naif. Menyatukan nasionalisme dengan komunisme, jelas sesuatu yang bertolak belakang. Apalagi, Deliar dikenal sebagi pemikir berbasis Islam yang cukup ketat, meski dia disebut sangat moderat.
Lepas dari USU, Deliar justru mendapat kesempatan menempuh pendidikan doktor di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Saat itu, dia diberikan beasiswa oleh Yayasan Rockefeller. Karena prestasinya, yayasan itu memutuskan membiayai pendidikan Deliar sampai selesai pada tahun 1962. Ini sekaligus menjadikannya sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang politik. Saat itu, Deliar berhasil mempertahankan disertasinya berjudul The Rise and Development of the Modernist Moslem Movement in Indonesia, 1900-1942.
Kembali ke Indonesia, Deliar kemudian diangkat sebagai Rektor IKIP Jakarta. Namun lagi-lagi, pemikirannya yang keras dan sikapnya yang tegas, membuatnya dibuang. Meskipun banyak sekali perubahan penting yang dibuatnya di IKIP Jakarta, yang bahkan masih diterapkan sampai saat ini. Salah satunya, metode pengajaran menggunakan modul, yang merangsang kreativitas mahasiswa. Sistem ini, bahkan masih digunakan di banyak perguruan tinggi di Indonesia saat ini.
Ketika itu, Deliar juga menyiapkan sebuah sistem pendidikan untuk mencetak guru-guru khusus untuk penyandang cacat. Sebuah pendidikan yang tak pernah dipikirkan siapapun pada saat itu.
Sampai kemudian, Deliar dilarang pemerintah membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar di institut yang dipimpinnya itu. Alasannya, pidatonya yang berjudul Partisipasi dalam Pembangunan (1974), dianggap menyinggung pemerintah.
"Menteri memanggil saya, karena tidak setuju dengan judul dan beberapa bagian dari isi pidato pengukuhan itu. Menteri minta saya mengubahnya, tapi saya tolak. Sehingga keluar surat pemberhentian sebagai rektor dan larangan mengajar," ujar Deliar Noer.
Dilarang mengajar di negeri sendiri, Deliar justru kebanjiran permintaan mengajar dari luar negeri. Deliar pun hijrah ke negeri tetangga, Australia. Dia menjadi peneliti di Universitas Nasional Australia (ANU) di Canberra. "Daripada tidak bisa makan di negeri sendiri, lebih baik cari makan di negeri orang," kata anak kedua dari tiga bersaudara itu, seperti dikutip pusat data Tempo, Rabu (18/7). Selain menjadi peneliti, Deliar juga menjadi dosen Sejarah dan Ilmu Politik di Universitas Griffith, Brisbane.
Selama di "pengasingan" itu pula, Deliar melahirkan puluhan karya bermutu. Di antaranya Ideologi, Politik, dan Pembangunan; Islam, Pancasila dan Asas Tunggal, serta Partai-partai Islam Tahun 1945-1965.
Karyanya yang dianggap paling fenomenal adalah Gerakan Modern Islam di Indonesia, serta buku Mohammad Hatta: Biografi Politik (1902-1980). Buku Gerakan Modern Islam, diangkat dari disertasi Deliar di Universitas Cornell, dan menjadi kutipan klasik bagi studi-studi politik Indonesia sampai saat ini. Sementara biografi politik Hatta, merupakan studi paling komprehensif tentang Hatta. Sehingga tak heran, buku ini pada 1992 terpilih sebagai buku terbaik Yayasan Buku Utama.
Kini cendekiawan muslim yang juga pernah memimpin Partai Umat Islam ini telah pergi untuk selamanya. Deliar yang pernah mengajar di Universitas Islam Riau ini, menghembuskan nafas terakhir di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, Rabu (18/6) sekitar pukul 10.30 WIB. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Swadaya Raya No 7-9 Klender, Jakarta Timur. Menurut keluarga, jenazah Deliar akan dimakamkan Kamis (19/6) ini di TPU Karet. Selamat jalan Pak Deliar Noer.(*)
June 19, 2008 at 6:39 am
[...] In Memoriam Deliar Noer [...]