Polisi Brutal (Lagi)
Beberapa tahun lalu, saat Presiden Soeharto dianggap sebagai “setan besar” yang berdiri mengangkang di tengah jalan, ribuan mahasiswa di seluruh negeri turun ke jalan. Mereka berusaha merobohkan “setan besar” itu. Usaha itu tak sia-sia, meski harus ditebus ratusan nyawa, dan ratusan orang hilang tanpa jejak.
Saat itu, kecaman dari dalam dan luar negeri berdatangan. Semuanya mengarah kepada TNI dan Polisi yang bertindak anarkis dan melanggar HAM. Tidak sedikit mahasiswa dan rakyat biasa yang babak belur, patah-patah, sekarat di rumah sakit, bahkan tewas dan hilang. Semua mengecam tindakan brutal aparat negara yang bertindak seperti preman berseragam itu.
Tak lama setelah hujan makin, hujatan dan runtuhnya “setan besar”, TNI dan Polri berkoar-koar akan mereformasi diri. TNI kemudian menggelar program back to barrack untuk lebih profesional sebagai penjaga kedaulatan bangsa. Polisi pun begitu. Sikap brutal dan koruptif di tubuh Polri, pelan-pelan mulai dikikis.
Tapi coba lihat, Sabtu (24/5), polisi sepertinya melupakan bagian dari reformasi internalnya. Mereka kembali bersikap brutal. Kampus Unas di Jl Sawo Manila, Pejaten, Jakarta, diserbu layaknya perang. Dengan senjata lengkap, plus pentungan dan merim air, polisi dengan gagah berani menyerang para mahasiswa yang bersenjatakan pengeras suara, spanduk dan poster, yang berisi tentangan terhadap kenaikan harga BBM.
Hasilnya, 140 mahasiswa diciduk dengan keadaan mengenaskan. Muka lebam, bibir berdarah, hidung patah dan banyak lagi. Secara fisik, kampus Unas sendiri hancur lebur. Kaca-kaca berserakan. Koperasi mahasiswa dijarah. Motor parkir dihancurkan. Sebuah tindakan maha brutal kembali dipertontonkan polisi.
Alasan polisi, mahasiswa berbuat anarkis dengan menutup ruas jalan, sebagai protes atas kenaikan harga BBM. Tapi pantaskan protes dengan menutup ruas jalan itu, ditanggapi dengan penyerangan brutal?
Sama seperti beberapa tahun lalu, kecaman dan makian meluncur deras ke polisi. Sikap brutal mereka menuai protes keras dari berbagai pihak. Walau bagaimanapun, tidak ada alasan bagi polisi untuk bersikap brutal menghadapi mahasiswa yang tidak pernah menyerang polisi. Tapi justru polisi yang menyerang mahasiswa.
Kapolda Metro Jaya Adang Firman seperti kehilangan dalih untuk membela diri. Dia menyebut, perusakan Unas tidak sepenuhnya dilakukan polisi. Menurutnya, ada orang lain yang ikut merusak Unas.
Adang sepertinya sudah tak tahu harus menjawab apa untuk membela sikap brutal pasukannya. Mana mungkin ada orang lain berani masuk ke kampus Unas, di saat ratusan polisi berseragam sedang berbuat anarkis di dalam kampus? Kalaupun ada, jelas itu juga polisi yang tidak berseragam. Atau, apa mungkin mahasiswa Unas sendiri merusak kampusnya? Lantas kenapa Adang melontarkan pembelaan bodoh seperti itu? Jawabannya hanya satu: Adang benar-benar sudah kehilangan akal menjawab semua tudingan miring terhadap institusinya. Meski tidak punya kata-kata lagi, jiwa korsa tetap di depan. Adang tetap membela sikap brutal anak buahnya, meski pembelaannya terkesan sangat bodoh.
Sikap brutal polisi itu membuat kita semua bertanya. Apa benar polisi sudah mereformasi diri, khususnya untuk sikap brutalnya itu? Kenapa peristiwa kejam di masa perjuangan reformasi 1997 lalu terulang lagi?
Harga BBM sudah naik. Harga-harga barang juga sudah melambung tinggi jauh sebelum harga BBM dinaikkan. Dan kini, polisi kembali menunjukkan watak aslinya, brutal dan lebih cocok disebut preman yang berseragam dan dipersenjatai. Mau jadi apa negeri tercinta ini?(*)