Atas Nama Tuhan
Orangtua itu busur yang melepaskan anak panah. Anak panah akan mencari jalan sendiri. Orangtua hanya bisa mengarahkan, namun yang menentukan jalan tetap anak panah itu sendiri. Seperti itulah peran orangtua dengan anak-anaknya.
Khalil Gibran
Ucapan sastrawan besar Libanon, Khalil Gibran, membenam kuat dalam benak. Terpaku dalam, menancap kuat dalam tempurung gelap. Ucapan Gibran sepertinya biasa saja. Tapi bermakna sangat dalam. Orangtua kandung saja tidak berhak menentukan jalan sang anak. Tapi kenapa ada orang lain yang ingin mengatur kehidupan orang lain? Padahal tidak punya hubungan darah apapun? Hanya karena kekayaannya, dia merasa sudah jadi Tuhan, merasa berhak mengatur hidup orang lain?
Kenyataan pahit itu ada!
Hewan dibekali insting kebinatangan yang menuntun hidup mereka. saling terkam, saling mangsa dan saling makan. Namun hewan tidak dibekali akal. Manusia dibekali akal. Tapi sayang, ada manusia yang tidak menggunakan akalnya. Lebih mengutamakan insting binatangnya untuk menerkam, memangsa dan memakan sesama.
Parahnya, ada yang menggunakan akal yang luar biasa itu untuk menjebak sesama, memerangkap. Bertindak seolah sahabat sejati. Di saat-saat sulit berperan sebagai teman sejati. Padahal sebenarnya, keadaan sulit justru dia yang menciptakan. Begitulah sebagian orang menggunakan akal yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.
Celakanya lagi, sikap seolah teman sejati itu dilakukan dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka merasa benar berbuat begitu, karena selama ini ada yang merasa punya hubungan dengan Tuhan. Tapi benarkan itu jalan Tuhan mereka?
Dengan mengatasnamakan Tuhan, manusia ini berharap suatu saat orang yang diperangkapnya menyerah, karena keadaan sulit yang dia ciptakan. Bila itu sudah terjadi, mereka akan berpesta. Semua rencana berhasil. Sementara orang yang diperangkap akan kehilangan, terpuruk dengan kepala menunduk dan lutut membenam tanah.
Bagi manusia, dijebak, dijerat dan dipura-purakan sesama manusia bukan hal aneh. Hanya dibutuhkan kejelian untuk melihat mana kawan mana lawan. Menyigi dua sisi mata uang tidak mudah. Butuh rasa yang mendalam. Sampai rasa itu, menuntun kepada sebuah pemberitahuan.
Orangtua hanya busur panah. Jadi jangan biarkan dirimu dijebak, dijerat dan diatur orang lain yang tidak ada sangkut paut apalagi talian darah. Tetaplah percaya Yang Maha Kuasa membimbing. Percaya Kekuatan Esa tidak membiarkan sendiri. Tapi jangan atasnamakan Tuhan untuk mencelakakan sesama, seperti yang mereka lakukan dengan mengatasnamakan Tuhan mereka.(*)
April 14, 2008 at 2:22 pm
Biarlah mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Semoga orang yang sedang diperangkap itu mampu melepaskan diri dari jerat mereka. Berlari dan berlari.. mengejar masa depan yang cerah dan merdeka… sebab itulah Hak yang ia miliki sebagai manusia..
Maju terus ya… ! Jangan mundur!
April 17, 2008 at 5:19 pm
dah dibaca tulisannya bos…..bagus…..gw juga pernah menyinggung karya Gibran utk beberapa tulisan….tp lom sempet di p[osting ke bloger gw di wordpress ini….masih belajar bos..
May 22, 2008 at 2:43 pm
namun suatu saat orang yang terperangkap itu pasti akan keluar dan sebaliknya orng yang memerangkp itu akan terperangkap ke dalam perangkapnya sendiri…….:D