Wartawan Dipukul, Korem di Demo

Terik matahari menyengat ubun-ubun di Jumat sore, 14 oktober 2005. Garangnya matahari sore yang bertepatan dengan bulan Ramadhan itu, tidak mampu menyurutkan rasa terkejut, ketika sebuah kabar menampar daun telinga: dua wartawan harian Posmetro Padang babak belur dihajar preman dan oknum anggota TNI AD, di gudang kayu milik Nurbay alias Labay, di kawasan Bungus, Padang.

Kabar itu segera menyeret roda sepeda motor berputar mengarah ke Polsekta Lubuk Begalung, Padang. Kedua wartawan yang jadi korban, Dasman Boy dan Hermansyah atau Man Brangin, sedang membuat laporan polisi di Polsek tersebut.

Kedua rekan dari media cetak itu kondisnya cukup menyedihkan. Dasman Boy wajahnya bengkak, sedangkan Man Brangin mengaku dadanya selalu sesak saat menarik napas. Polisi pun segera memberkas laporan kedua orang itu. Sementara sekitar sepuluhan wartawan tv swasta nasional yang juga sudah berkumpul di Polsek, segera mengatur siasat. Pengeroyok wartawan harus dibikin jera. Sampai sejera-jeranya. Saat itu juga, sebuah mobil pikap milik Posmetro Padang yang berada di Polsek, langsung dibajak untuk mengantarkan kru tv mengambil gambar gudang kayu milik Labay, tempat pengeroyokan terjadi.

Sebelum berangkat, beberapa anggota polsek memperingatkan agar berhati-hati. Karena warga Bungus dikenal brutal karena kurangnya tingkat pendidikan di kawasan tersebut. Namun rasa marah sudah mengalahkan semuanya. Mobil pikap itu melaju ke arah Bungus. Di tengah jalan sempat berhenti sebentar membeli sedikit minuman untuk berbuka puasa.

Walau bagaimanapun, peringatan anggota polsek tetap dijadikan acuan. Untuk menghindari hal yang lebih buruk, para kru tv sengaja tidak turun dari mobil saat mengambil gambar gudang kayu ilegal milik Labay. Sambil berjalan pelan, Koordinator Liputan Posmetro yang bersedia menjadi sopir, menjalankan kendaraannya pelan-pelan. Dengan begitu, kru tv yang berdiri di bak terbuka di belakang mobil, mendapat kesempatan banyak mengambil gambar.

Peringatan polisi pun seakan terbukti. Karena begitu lampu kamera mulai mengarah ke arah gudang ilegal yang mulai gelap ditelan malam itu, beberapa puluh warga mulai berdatangan. Perlahan mereka menuju ke arah mobil pikap yang ditumpangi. Wajah-wajah manusia kurang pendidikan itu sama sekali tidak bisa dikatakan bersahabat. Menghindari hal yang tidak diinginkan, mobil pun tancap gas kembali ke arah pusat Kota Padang.

Selang dua hari kemudian, tersiar kabar polisi menangkap dua tersangka pelaku pengeroyokan. Mereka adalah Yansen (22) dan Masrial alias Aciak Duri (38). Namun begitu, para wartawan tidak puas, karena mengetahui pemicu pengeroyokan itu adalah oknum anggota TNI AD dari Korem 032 Wirabraja yang bernama Sertu Usman. Tentara pembeking kayu ilegal ini sama sekali tidak “disentuh” kesatuannya. Padahal jelas sekali, oknum tentara yang satu ini mempermalukan kesatuannya dengan cara membeking usaha kayu ilegal milik Labay. Bahkan Usman menjadi pembuka pengeroyokan terhadap wartawan Posmetro Padang dengan cara melempari kedua wartawan itu dengan batu.

Ketimpangan ini kembali membakar emosi. Upaya penekanan pun dilakukan. Para wartawan tv di Padang yang rata-rata mantan aktivis mahasiswa semasa kuliah, menggagas sebuah aksi ke Korem 032/Wirabraja di Jalan Sudirman, Padang. Tanpa disangka, gagasan itu disambut puluhan wartawan elektronik maupun cetak yang ada di Padang. Hasilnya, Selasa 18 Oktober 2005 siang, sekitar 50-an wartawan dan wartawati memenuhi jalan di depan gerbang Markas Korem 032/Wirabraja. Suasana puasa dan terik matahari yang menyengat tidak menjadi halangan. Sertu Usman mesti dihukum!

Sebuah upaya yang tidak mudah, karena korsa kesatuan yang buta di kalangan TNI, membuat mereka lebih suka menyembunyikan bangkai berbau busuk dari pada membersihkannya. Namun sebuah upaya tetap harus dilakukan. Setidaknya untuk memberitahukan kepada para tentara itu, bahwa wartawan tidak gampang menyerah hanya dengan intimidasi dan bahkan pemukulan ala preman sekalipun.

Seperti sudah diduga sebelumnya, sampai saat ini tidak jelas bagaimana penanganan yang dilakukan kesatuannya terhadap si Usman, tentara pembeking kayu itu. Walaupun, orang-orang seperti Usman lah yang selama ini sudah mencoreng habis harga diri TNI AD di mata masyarakat. Tapi setidaknya, wartawan Padang sudah berhasil mengejutkan Korem, di tengah terik panas bulan Ramadhan.(*)

One Response to “Wartawan Dipukul, Korem di Demo”

  1. elisabethelsa7799 Says:

    Aduuhhhh…. sebenernya TNI, Polisi.. dan sejenisnya itu…sahabatnya rakyat atau sebaliknya siich..??!!!

    Ckckckk…cckkk… sungguh sedih hati ini …. Kapan bangsa ini bisa maju yach?! Aparatnya justru beraninya hajar yang lemah…. berani ga nangkepin koruptor koruptur bangsa ini??!!!

    ” Ampunilah mereka yach Tuhan, sebab mereka tidak tau apa yang mereka perbuat!” Amin.

Leave a Reply