Upaya Mengobati Polio

Afrianto (9) berjalan hilir mudik dengan kedua kakinya. Namun bukan hanya dengan kaki, kedua tangannya juga ikut digunakan untuk membantunya berjalan. Dengan begitu, ada dua kaki dan dua tangan yang semuanya bekerja sebagai kaki untuk membuatnya bisa berjalan. Sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, bocah laki-laki itu pun kemudian membaur bersama teman-teman sebaya. Bedanya, teman-temannya berjalan tegak, sedangkan Anto, begitu nama panggilan bocah itu, harus berjalan dengan cara menungging.

Memang caranya berjalan tidak wajar. Namun itu bukan kehendak si bocah, juga bukan kehendak kedua orang tuanya, pasangan Zulkarnain (45) dan Nurhayati (40). Bocah kurus ini terpaksa harus berjalan dengan cara itu, karena kedua kakinya tidak sanggup menopang berat badannya akibat penyakit yang diderita.

Bukan cuma Anto, dua adiknya pun mengalami nasib sama. Rizky Prasetyo (3,5) juga hanya bisa berjalan dengan cara yang sama. Sedangkan Mussa (7 bulan), walaupun belum bisa berjalan, namun sudah pula menunjukkan tanda-tanda seperti kakaknya.

Keadaan ini tentu saja membuat gusar Zulkarnain dan Nurhayati sebagai orang tua anak-anak tersebut. Namun apa hendak dikata, penyakit yang membuat anak-anaknya tidak bisa berjalan normal, telah menghinggapi buah hati sejak mereka berusia balita. Membuat berita tentang keluarga ini sekaligus membuat perasaan berkecamuk. Hendak jadi apa anak-anak ini jika sudah besar nanti? Apakah tidak ada pengobatan untuk menghentikan kondisi buruk itu?

Zulkarnain yang hanya pekerja serabutan, jelas tidak pernah berpikir muluk untuk bisa mendapatkan perawatan maksimal dari rumah sakit. Paling-paling, hanya ke puskemas yang bisa dilakukan. Walaupun obat yang diberikan dari kunjungan pertama sampai kunjungan ke sekian kalinya, itu-itu juga. Padahal, bocah-bocah malang itu diduga kuat menderita penyakit polio. Sebuah penyakit yang pada masa pemerintahan Soeharto, selalu dikatakan sudah punah dari tanah air ini.

Rabu, 30 November 2005, beberapa kru tv swasta Indonesia yang ada di Padang mengambil gambar keluarga malang itu. Anak-anak yang berjalan tidak normal namun selalu lincah dan hiruk pikuk, menjadi incaran kamera. Sore harinya, gambar keluarga itu pun terbang ke Jakarta, dan esok paginya tersiar melalui layar kaca ke seluruh penjuru Indonesia.

Ternyata, tayangan itu tidak hanya sekedar tayangan. Karena gambar-gambar itu berhasil mengetuk hati para dermawan, dan memutuskan membantu pengobatan bagi anak-anak tersebut.

“Besok kamu datangi lagi ya mereka. Ada yang mau membantu. Bawa ke rumah sakit, periksa semuanya. Semua fasilitas apapun yang dibutuhkan untuk pengobatan kamu ambil. Semua biayanya sudah ada yang menanggung. Jangan lupa ambil gambarnya untuk bukti kita ke yang membantu,” begitu perintah dari kantor di Jakarta, ke telepon genggam. Hati rasanya bersorak gembira. Ternyata tidak sia-sia menyiarkan gambar anak-anak malang itu.

Ketika didatangi lagi keesokan harinya, Zulkarnain dan Nurhayati hanya saling pandang, ketika niat untuk membawa anak-anak mereka ke rumah sakit dan
seluruh biayanya ditanggung, diperdengarkan ke telinga mereka. Pasangan suami-istri itu seakan tak percaya. Namun kemudian mereka mengangguk cepat, ketika ditanya apakah anaknya bersedia dibawa ke rumah sakit atau tidak.

Pihak rumah sakit Dr M Djamil Padang yang sudah dihubungi sebelumnya, telah menunggu keluarga itu di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Seorang dokter
spesialis anak pun langsung memeriksa anak-anak itu. Namun dokter tidak segera memberikan diagnosa, apalagi menetapkan anak-anak itu positif diserang polio. Dengan alasan akan melakukan observasi habis-habisan terhadap anak-anak itu, mereka pun diminta untuk di rawat inap. Sesuai pesan dari kantor di Jakarta, seluruh fasilitas medis dan biaya hidup keluarga itu di rumah sakit langsung disiapkan.

Namun itulah rumah sakit pemerintah. Seminggu berlalu, tidak ada tindakan berarti yang dilakukan. Selama seminggu menginap di bangsal anak rumah sakit
terbesar di Sumatra Barat itu, tercatat hanya dua kali anak-anak itu di ambil sampel darahnya untuk diteliti di laboratorium. Namun hasilnya tidak pernah diketahui sampai saat ini. Alasannya, mesin canggih yang akan digunakan untuk mengobservasi otot dan tulang bocah-bocah itu masih tergolong sangat baru, dan belum ada yang bisa mengoperasikan. Sebuah alasan yang sangat aneh.

Tidak adanya tindakan pengobatan yang memadai selama seminggu di rumah sakit, membuat anak-anak dan kedua orang tuanya mulai tidak betah di rumah sakit. Mereka merasa sangat mubazir dan hanya membuang-buang waktu berdiam di rumah sakit. Karena apa yang mereka dapatkan di rumah sakit, tidak ada bedanya dengan saat mereka berada di rumah. Zulkarnain pun memutuskan kembali pulang ke rumah. Karena bila berada di rumah, dia masih bisa bekerja dan mencari uang untuk menghidupi keluarga. Sebuah kenyataan pahit tentang pelayanan kesehatan yang belum juga banyak berubah di negeri ini.(*)

One Response to “Upaya Mengobati Polio”

  1. elisabethelsa7799 Says:

    Iya … aq juga punya pengalaman pahit tentang Pelayanan Kesehatan di negeri ini. 2 orang yang kucintai, yaitu mami dan adik aq Naomi Hotria… sebelum meninggal juga merasakan buruknya pelayanan kesehatan di Indonesia ini ( Instalasi atau pribadi yang tersindir dengan ini jangan marah ya… tapi mari benahi dirimu…!), mereka mengalami Malpraktek ketika ditangani Medis Indonesia. Itu sebabnya saat ini aq bersyukur sama Allah DIA berikan aq kesempatan mendirikan NGO dan menjalani Program Kesehatan… Alhamdulilah… Rekan-rekan dokter yang tidak ada satupun orang Indonesia itu… begitu tulus memberikan Pelayanan Kesehatan untuk orang-orang yang kurang mampu dan mereka2 yang mengalami Bencana alam.

    Bravo…. Lagi-lagi aq bangga baca tulisan kamu! maju terus ya, hui!!

Leave a Reply