Kami Butuh Makan, Bukan Wartawan…
Malam belum lagi purna. Subuh belum menampakkan diri. Namun penduduk Bukik Sileh dan Batu Bajanjang, Selasa subuh, 12 April 2005, sudah dibangunkan alam. Bumi berguncang. Gempa berkekuatan 3 pada Skala Richter (SR) menggoyang bumi Kabupaten Solok, Sumatra Barat nan indah. Penduduk yang pada umumnya memang sering bangun subuh untuk beraktivitas di sawah dan ladang itu kaget. Kekagetan semakin lengkap, ketika dari puncak Gunung Talang (2.597 mdpl), terdengar suara gemuruh keras diiringi letusan kuat. Langit yang cerah disinari bulan tiba-tiba gelap gulita. Kepanikan pun merajalela.
Siangnya, sebuah perintah mampir ke daun telinga, “segera berangkat ke Gunung Talang,” begitu kira-kira bunyinya. Tak lama kemudian, badan ini pun meluncur menuju Kabupaten Solok, tempat Gunung Talang berada. Informasinya, ribuan warga sudah mulai diungsikan. Sasaran pertama yang dituju adalah Desa Batu Bajanjang, tempat pos pengamatan vulkanologi Gunung Talang berada. Namun begitu memasuki kawasan Bukik Sileh, nuasan lain sudah terlihat. Di mana-mana berwarna kelabu. Seluruhnya diselimuti abu vulkanik yang ditumpahkan kawah Gunung Talang. Atap rumah, dedaunan, aspal jalan, sampai rambut dan alis mata penduduk setempat tertempel sedikit abu. Ketebalan abu yang menempel di aspal jalan setidaknya mencapai satu sentimeter. Tanaman buah markisa yang menjadi andalan warga sekitar, terlihat layu berselimut abu.
Walaupun banyak dari warga yang menggunakan masker untuk keselamatan pernafasan, namun banyak juga yang tidak menggunakan. Pasar Bukik Sileh yang biasanya ramai, siang itu sepi. Hanya beberapa warga terlihat bergerombol di beberapa sudut. Sementara suasana agak sedikit temaram, karena hujan abu belum seluruhnya luruh ke tanah, dan masih menghalangi sinar matahari menyentuh bumi. Menimbulkan suasana magis yang mencekam, sekaligus menakjubkan.
Mobil yang ditumpangi dari Padang berjalan pelan menyusuri pasar Bukik Sileh. Dari Koramil setempat, didapat informasi kalau masyarakat baru saja membuat sebuah pengungsian tak jauh dari pasar. Lokasi pengungsian pun segera menjadi incaran. Benar saja, sekitar 500-an warga sudah berkumpul di sebuah tanah
lapang di bawah sebuah bukit. Tenda-tenda biru darurat didirikan seadanya untuk tempat berteduh. Sebagian dari mereka terlihat sibuk memasang pancang untuk mendirikan tenda darurat baru. Sebagian lain terlihat sibuk memasak sesuatu di atas tungku. Sementara ibu-ibu ada yang menyusukan anak di bawah atap tenda biru. Banyak juga dari mereka yang terlihat bermenung, tak tahu sedang memikirkan apa.
“Waktu kami tahu gunung sudah meletus, kami langsung meninggalkan rumah, membawa apa yang bisa dibawa saja. Kami pergi ke tempat yang lebih aman,” ujar Raida (35), seorang ibu yang ditemui sambil menggendong anaknya yang masih balita.
Rajo Intan (69), warga Jorong Simpang Ampek, Bukik Sileh mengatakan, kerugian bukan cuma pada tanaman yang layu tertutup abu vulkanik. Tetapi juga pada hewan ternak mereka yang terpaksa ditinggalkan begitu saja di kandang tanpa diberi makan. “Padahal itu sapi bantuan dari pemerintah untuk kelompok tani,” ujarnya murung.
Yang namanya mengungsi jelas tidak menyenangkan. Kepergian dari rumah yang mendadak tanpa membawa bekal apapun, membuat penduduk kalang kabut di lokasi
pengungsian. Makanan dan air bersih tidak ada. Bahkan kedatanganku, disambut warga dengan permintaan makanan.
“Kami butuh makan, tidak butuh wartawan. Kami kelaparan di sini,” kata seorang ibu yang menolak diajak bicara, sambil terus menyusui anaknya yang
pulas dalam gendongan. Sampai kemudian, Syamsir (40), satu dari pengungsi menyampaikan, bahwa sejak pagi mereka belum makan dan hanya minum air yang sempat di bawa dari rumah.
“Tolonglah kami pak, sampaikan kepada pemerintah kalau kami di sini sudah kelaparan. Kami butuh makan dan butuh minum. Bahkan di sini sudah ada warga yang pingsan karena belum makan sejak pagi,” ujarnya.
Keributan hampir saja terjadi, ketika sedikit makanan ringan yang tersisa di mobil, yang dibawa dari Padang, dibagikan kepada para pengungsi itu. Tanpa di duga, puluhan penduduk yang terdekat dengan mobil, tua-muda, besar kecil, serentak mengerubuti dan merebut makanan ringan yang masih ada di tangan. Seorang anak kecil yang pertama mendapatkan sebungkus makanan ringan, menangis terisak ketika makanan yang sudah ditangannya berpindah dengan kasar
ke tangan seorang lelaki dewasa yang merebut dengan gesit. Untuk menghindari semakin banyaknya kerumunan warga, sopir pun diminta segera meninggalkan lokasi. Selanjutnya, pos pengamatan vulkanologi Gunung Talang di Batu Bajanjang menjadi tujuan.
Di tempat itu, ternyata sudah ada Wakil Bupati Kabupaten Solok (saat itu), Elfi Sahlan Ben. Dia mengaku sudah berada di pos tersebut sejak sekitar pukul 07.00 WIB. Dia langsung mengakui kurangnya pasokan logistik kepada penduduk yang mengungsi. Namun begitu, dia mengaku sudah meminta mobil tangki air bersih segera menyuplai air ke lokasi-lokasi pengungsian. Sedangkan untuk bantuan makanan, menurutnya, masih sedang dalam tahap diusahakan.
“Kita sadar semuanya masih sangat kurang. Tapi kita sudah dan terus berusaha. Saya juga tidak tahu berapa jumlah mobil tangki air bersih yang dikirim ke lokasi pengungsian, karena saya hanya meminta dari sini lewat telepon. Begitu juga dengan makanan, saya juga tidak tahu berapa banyak yang akan dikirim. Yang jelas saya sudah melaporkan peristiwa ini kepada Bupati,” ujarnya.
Selain mengungsi atas inisiatif sendiri, Pemkab Solok kemudian mengerahkan bus-bus pemda untuk mengangkut penduduk yang ingin keluar dari dua desa tersebut. Walaupun secara umum ada dua kecamatan yang menjadi korban letusan gunung, yaitu Kecamatan Lembang Jaya dan Kecamatan Danau Kembar. Namun desa Bukik Sileh dan desa Batu Bajanjang yang berada di Kecamatan Lembang Jaya, merupakan desa yang terkena imbas paling parah. Saking dekatnya dengan puncak gunung, kedua desa ini sering dijadikan titik awal para penggiat alam bebas untuk melakukan pendakian ke puncak gunung tersebut. Letusan Gunung Talang kala itu, menyebabkan lebih dari 20 ribu orang mengungsi. (*)
April 8, 2008 at 7:20 am
bagus…bagus bgt buat detail suatu kejadian…..ntar dibaca lagi deh. ok
April 9, 2008 at 3:28 pm
Sayang…, tulisan kamu oks banget dech…
Top dechhh…!!!
Kamu ada disitu ya waktu itu..? Hebat… kamu emang Hui-ku yang hebat..!!
Ga salah dech aq bangga sama kamu!!