Banjir Tanggung Jawab Langit?

Banjir

“Siapa yang bisa menghentikan banjir? Ini bencana alam, datangnya dari langit. Saya berhenti jadi bupati, kalau ada yang bisa menghentikan banjir ini”.

Kalimat putus asa dengan nada tinggi itu, dilontarkan Sukarmis, Bupati Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Selasa (25/3) lalu. Kalimat emosional itu diucapkan Sukarmis, karena terus ditekan untuk mengatasi banjir yang melanda daerahnya. Tapi bukannya berpikir bagaimana mengatasi banjir, Sukarmis malah terkesan menyerah.

Bukan cuma Sukarmis, Bupati Kabupaten Kampar, Riau, Burhanuddin Husein juga begitu. Dia malah mengambil contoh nasional. Menurutnya, banjir merupakan persoalan nasional, yang tidak bisa ditanggulangi.

“Jangan tanya saya langkah menanggulangi banjir. Republik ini saja terendam. Coba lihat Jakarta. Ibu kota negara saja terendam tidak bisa diatasi,” katanya dengan nada marah.

Kedua bupati ini merasa kesal, karena banjir yang melanda kawasannya dibebankan ke pundaknya. Padahal menurut mereka, banjir merupakan gejala alam, yang bukan tanggung jawab mereka. Mungkin keduanya berpikir, karena gejala alam, ya biarkan alam yang menghentikan.

Inilah tipikal pemimpin negeri ini. Gaji dan penghasilan mau besar, tapi kerja tidak mau. Mereka hanya mau mendatangi acara-acara seremonial. Tapi bila sudah menyangkut hidup rakyatnya yang banyak itu, mereka langsung marah-marah.

Kalau dipikir-pikir, jangankan banjir, laut saja bisa dibendung oleh Negeri Belanda, yang pernah menjajah republik ini. Mereka bisa mengatur sirkulasi air dengan sangat baik. Sehingga meskipun negara itu letaknya lebih rendah dari permukaan laut, tapi mereka tidak pernah kebanjiran.

Kuncinya cuma pada satu kata, teknologi! Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, warga Belanda mampu menciptakan teknologi untuk mengatasi banjir air laut, yang berada di atas mereka. Selain itu, mereka ditopang oleh uang yang cukup.

Bicara soal teknologi, Riau atau bahkan Indonesia mungkin tertinggal dari Belanda. Namun teknologi itu bisa dibeli. Artinya, bila ada uang, cara mengatasi banjir pun bisa dibeli. Tapi celakanya, uangpun tidak ada. Jadi dengan apa mau mengatasi banjir?

Namun sebenarnya, khusunya Riau, uang bukan tidak ada. Namun malingnya terlalu banyak. Sehingga uang yang menumpuk lebih banyak lenyap entah ke mana. Riau merupakan provinsi terkaya kedua di Indonesia, dengan APBD lebih dari Rp 4 triliun pertahun. Tapi ironisnya, di provinsi kaya ini, justru terdapat ribuan penderita gizi buruk! Mereka kurang makan dan kurang gizi. Padahal ini provinsi kaya.

Mengatasi persoalan makan rakyatnya saja Provinsi Riau tidak mampu. Lantas bagaimana pula hendak mengatasi banjir. Jadi tak heran, Bupati Kampar dan Kuansing mencak-mencak. Mereka bahkan menyalahkan “langit”, karena katanya, banjir itu datang dari langit. Jadi siapa yang bisa mencegah?

Itulah bila pemimpin punya pikiran ala kadar, atau malah kelewat pintar. Alakadar, karena pikirannya tidak sampai ke cara mengatasi banjir. Atau bisa jadi kelewat pintar, namun kepintarannya hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Sehingga derita rakyatnya di lokasi banjir dianggap bukan tanggung jawabnya. Tetapi tanggung jawab “langit”.

Bukan cuma Kampar dan Kuansing yang direndam banjir. Total, ada 8 kabupaten di Riau yang kini terendam. Termasuk Kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau. Di Pekanbaru sendiri, banjir sudah seminggu menenggelamkan kawasan Rumbai. Ribuan rumah hanya terihat setengahnya saja. Ribuan orang terpaksa mengungsi ke pinggir jalan. Mereka mendirikan tenda seadanya, makan seadanya. Karena bantuan dari Dinas Sosial tak kunjung turun. Tenda daruratpun bahkan tak didirikan. Sehingga warga mendirikan tenda sendiri, dari bahan seadanya.

Padahal, di Dinas Sosial Pekanbaru saat ini (Rabu, 26/3), sudah menumpuk 5 ton beras dan bantuan lainnya. Namun entah kenapa, bantuan itu tak kunjung sampai ke tangan para pengungsi banjir. Malah sebuah partai politik yang sejak awal banjir, gencar memberikan bantuan kepada pengungsi. Sementara Dinas Sosial Pekanbaru entah ke mana. Entah untuk apa bantuan itu mereka tumpuk di gudang.

Ironis memang. Tapi inilah kenyataannya. Kita tinggal di negeri yang kaya raya, tapi hidup dengan melarat. Mungkin dua bupati itu benar, semua ini menjadi tanggung jawab “langit”.

4 Responses to “Banjir Tanggung Jawab Langit?”

  1. Tapi c menurut aq jangan cuma ngebebanin “langit” ah, Pak! Ini juga bisa dimulai dari kita-kita…. beneran ga sayang sama lingkungan??
    Soal pemimpin2 negeri ini… hhh…., kita doain aja kali yach… biar hatinya di jamah sama ALLAH, supaya peduli dech sama rakyat dan bangsanya, jangan cuma peduli sama “gaji”nya aja… uooppsss!!! He he..

    Banjir… banjir…, cinta banget sich loe sama bangsa gue ini.. ^_^…;p

  2. Yee… kalo berasnya udah nyampe, langsung dikasi atuh bapak2 dan ibu2 Dinas Sosial! Mank pada mo diapain?! Dijualin?? Or mo buat sendiri??
    Aihh… aiihhh…. jangan gitu aahhh….! Sapa tau besok rumah sampean yang kelelep air… kan banjir ga pandang pemerintah atau rakyat…
    Hari ini mereka yang kebanjiran…. sapa tauuuu… besok…, rumah sampean kena air bah…! Mank mau bantuan buat sampean kita-kita gantian yang “nimbun”? He .. he…, bukan nyumpahin lho! Cuma…., nyadar sendiri dech!!

  3. sepertinya , tidak selesai dg uang dan teknologi saja, jk sumber daya manusianya tidak dibangun untuk alih teknologi tersebut….maka teknologi dan uang itu juga tidak akan menangulagi masalah banjir itu…sepertinya , kita ini kaya, tapi tidak sadar dan yg prihatin juga tidak mau belajar…..capek deh

  4. banjur adalah peringatan dari tuhan, kalau kita hampir lupa tugas utama kita, yaitu sebagai khalifah(manager) dimuka bumi ini. banjir juga menjadi tanggung jawab kita.

Leave a Reply